Tertunda Dua Pekan, Aksi Sosial Dilanjutkan. Material Dibantu Pemkab Langkat, Tenaga dan Keahlian Dikerahkan Secara Swadaya
LANGKAT, MEDAN – Semangat gotong royong kembali diwujudkan sejumlah kader dan relawan PKS Tandam Hulu II dengan membantu mendirikan kembali rumah kediaman ibunda dari Afrizal Siregar, warga yang terdampak bencana banjir pada Desember 2025 lalu. Rumah tersebut berada di Desa Salahaji, Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Kegiatan sosial yang dikemas dalam aksi bedah rumah itu kembali dilanjutkan setelah sempat tertunda selama kurang lebih dua pekan. Para relawan datang tidak sekadar membawa tenaga, tetapi juga keterampilan dan kepedulian untuk membantu keluarga yang rumahnya terdampak banjir.
Ketua PKS Tandam Hulu II, Abdul Hakim, bersama rekan-rekannya turun langsung dalam kegiatan tersebut. Mereka bergotong royong mengerjakan berbagai kebutuhan pembangunan rumah, mulai dari pekerjaan semen hingga pekerjaan kayu. Keahlian yang dimiliki para anggota menjadi modal penting untuk mempercepat proses pembangunan hunian tersebut.
“Alhamdulillah, hari ini kita kembali melanjutkan membantu mendirikan rumah ibu dari saudara kita, Afrizal Siregar, yang terdampak banjir tahun lalu, 2025, di Desa Salahaji, Pematang Jaya, Kabupaten Langkat,” demikian disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Bagi para relawan, pembangunan kembali rumah itu bukan sekadar pekerjaan fisik. Lebih dari itu, aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan akibat bencana alam.
Banjir yang terjadi pada Desember 2025 meninggalkan dampak bagi sejumlah warga, termasuk keluarga Afrizal Siregar. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung dan berkumpul bersama keluarga mengalami kerusakan sehingga membutuhkan penanganan dan pembangunan kembali.
Kondisi tersebut kemudian menggerakkan rekan-rekan Afrizal untuk mengambil bagian. Dengan kemampuan yang mereka miliki, para anggota PKS Tandam Hulu II berupaya memberikan bantuan secara nyata, terutama melalui tenaga dan keahlian dalam pekerjaan konstruksi.
Menariknya, sebagian besar tenaga yang terlibat dalam kegiatan tersebut merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan serba bisa. Mereka dapat mengerjakan pekerjaan semen, membantu pekerjaan kayu, maupun pekerjaan lain yang diperlukan dalam proses pembangunan rumah.
“Kebetulan rekan-rekannya ini satu UPA. Toserba, semua tukang serba bisa. Di semen bisa, bantu kayu bisa,” ungkapnya.
Kehadiran para relawan tersebut membuat proses pembangunan rumah berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Tidak ada sekat antara siapa yang memiliki kemampuan teknis dan siapa yang memberikan dukungan. Semua bergerak sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dalam kegiatan itu, bantuan material juga turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Langkat serta masyarakat setempat. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan kembali hunian yang layak bagi keluarga korban terdampak banjir.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan kelompok relawan memperlihatkan bahwa penanganan persoalan sosial tidak selalu harus dilakukan melalui program berskala besar. Kepedulian yang dilakukan secara langsung dan berkesinambungan justru dapat memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat secara nyata.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Langkat. Mudah-mudahan bantuan dan kegiatan ini menjadi berkah, insya Allah,” tuturnya.
Sementara itu, dari pihak PKS Tandam Hulu II, bantuan diberikan dalam bentuk tenaga dan keahlian. Para anggota secara sukarela meluangkan waktu untuk membantu proses pembangunan hingga rumah tersebut dapat kembali berdiri dan nantinya bisa ditempati dengan lebih nyaman.
Aksi tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa semangat gotong royong masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat. Ketika sebuah keluarga menghadapi persoalan akibat bencana, kepedulian dari lingkungan sekitar dapat menjadi kekuatan untuk bangkit kembali.
Pembangunan rumah ibunda Afrizal Siregar di Desa Salahaji diharapkan tidak berhenti hanya sebagai kegiatan sosial sesaat. Rumah tersebut nantinya diharapkan dapat kembali menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman dan layak bagi keluarga setelah sebelumnya terdampak banjir.
“Kita sempat dua pekan tertunda. Insya Allah hari ini kita lanjutkan kembali bedah rumah,” ujarnya.
Dengan dukungan berbagai pihak, proses pembangunan diharapkan berjalan lancar hingga selesai. Semangat kebersamaan yang ditunjukkan para relawan juga menjadi pesan penting bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, yakni hadir, membantu dan bekerja bersama.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan dan gotong royong masih menjadi kekuatan yang mampu mempererat hubungan antarsesama.
Bagi keluarga Afrizal Siregar, berdirinya kembali rumah tersebut tentu bukan hanya soal bangunan fisik. Di balik setiap kayu, semen dan material yang dipasang, tersimpan harapan agar keluarga dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih tenang setelah melewati masa sulit akibat bencana banjir.
Sementara bagi para relawan, apa yang mereka lakukan merupakan bentuk pengabdian sederhana kepada masyarakat. Mereka datang dengan kemampuan yang dimiliki, bekerja bersama tanpa banyak bicara, dan berharap setiap tenaga yang dicurahkan dapat menjadi amal serta membawa keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.
















